Selasa, 26 November 2013

'Penyebab Banjir Salah Satunya Adalah Sampah'

Tumpukan sampah yang menyebabkan banjir di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (13/11).
 Kementerian Lingkungan Hidup sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam antisipasi bencana banjir, salah satu upaya yang dilakukan adalah fokus pada penanganan sampah.

"KLH sosialisasi fokus pada pengelolaan sampah karena penyebab banjir salah satunya adalah sampah," kata Deputi Bidang Penanggulangan Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH Arief Yuwono di Jakarta, Senin (25/11).

Arief mengatakan banjir terjadi bukan hanya karena faktor alam seperti curah hujan dan tutupan lahan tapi juga akibat dampak dari perilaku manusia dalam mengelola sampah.

"Banyak faktor penyebab banjir seperti kondisi tutupan lahan dan sikap perilaku manusia apakah ramah lingkungan atau tidak, misalnya buang sampah ke sungai dan menempati bantaran-bantaran sungai," katanya.

Saat ini wilayah Indonesia memasuki musim pancaroba dari kemarau ke musim hujan yang diperkirakan puncaknya terjadi pada Januari-Februari 2014.

Hujan yang terjadi berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara global normal, namun secara bulanan atau wilayah ada yang curah hujan di atas normal seperti Riau, Jambi, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kondisi tersebut yang harus diwaspadai terjadinya ancaman banjir dan tanah longsor di samping daerah-daerah yang memang rawan terhadap kedua bencana alam tersebut.

Sementara untuk masalah tutupan lahan yang terus berkurang, melalui Kementerian Kehutanan dilakukan rehabilitasi secepatnya terutama di daerah hulu dan yang sedimentasinya tinggi.

Selain fokus pada sampah, KLH selama ini juga keluarkan informasi mengenai potensi banjir longsor, diterbitkan untuk setiap provinsi.

Di samping itu, KLH bersama kementerian dan lembaga terkait lainnya juga membangun persepsi yang sama tentang kejadian bencana dan memastikan langkah apa saja yang sudah dilakukan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

"Imbauan kita, mari kita sadar cuaca dan iklim sehingga nanti kita punya kesadaran untuk mencegah," tambah Arief.
Baca selengkapnya » 0 komentar

Sosok Pahlawan Saat Ini: Bercermin dari Kisah Seorang Pengumpul Sampah


Siang itu, saat matahari dengan panasnya yang begitu menyengat, kulihat seorang bapak menarik gerobak sampahnya menyusuri perkampungan. Dia-lah bapak pengumpul sampah di lingkungan kami waktu itu. Dengan peluhnya yang bercucuran, ia masih saja terus menjalani aktifitasnya sebagai pengumpul sampah. Aku yang saat itu baru saja pulang dari sebuah minimarket untuk keperluan belanja bulananku merasakan betapa panasnya hari itu. Sungguh, aku terhenyak. Sempat aku berdiri sejenak untuk berdoa, ”Ya Allah… Sungguh mulia pekerjaan bapak itu. Limpahkan-lah rahmat dan kasih sayangMu padanya. Berikanlah ia rezekiMu Ya Allah…”
Ya, itulah petikan kisahku tentang seorang pengumpul sampah. Seseorang yang selama ini sering terlupakan oleh kita. Sosok yang jasanya tak pernah mendapatkan apresiasi oleh masyarakat kita pada umumnya.
Padahal jika kita berpikir dan meresapi sejenak tentang pekerjaan beliau, sungguh apa yang beliau lakukan adalah bukti cintanya pada sesama. Ia rela menjadi bagian dari kehidupannya yang liar, kotor dan sungguh tidak nyaman untuk mengumpulkan sampah yang ada di rumah-rumah penduduk. Meski dibayar tak sebanding dengan apa yang dilakukannya, ia masih mensyukuri pekerjaannya tersebut.
Bagiku, beliau adalah sosok pahlawan masa kini. Pahlawan yang melakukan pekerjaannya dari hati. Ia yang merelakan dirinya demi orang lain. Ia yang tak pernah mengeluh atas rezeki yang diterimanya. Sungguh, Hormatku kusematkan pada beliau. Bapak pengumpul sampah lingkungan dimana pun berada. Semoga dedikasi kalian dinilai pahala di sisi Allah SWT.
”Saat ini, bangsa kita sesungguhnya merindukan jiwa jiwa seperti Bapak (Pengumpul Sampah) tadi. Jiwa yang ikhlas dalam menjalankan tuganya demi orang lain. Jiwa yang tetap bersyukur atas apa yang diperolehnya. Jiwa yang tetap tegar dan kuat di tengah kehidupan zaman saat ini. Semoga semangat pahlawan itu terus ada dalam diri kita. Demi kehidupan yang lebih baik di masa depan”
Baca selengkapnya » 0 komentar

Memang, Orang Miskin Dilarang Sakit!!


Selama ini saya hanya dengar-dengar saja bagaimana susahnya proses untuk orang miskin yang sakit demi mendapatkan pengobatan dari instasi terkait atau mendapat perawatan dari rumah sakit.
Ada yang mengatakan antri dari jam 2 atau jam 3 subuh di rumah sakit umum daerah. Kemudian setelah mendapat nomor antrian datang lagi jam 7 untuk bertemu dokter. Itupun harus tunggu 2-3 jam panggilan baru bisa ketemu dokter. Sampai muncul gurauan menyedihkan, ini kalau orang sakit keras keburu meninggal sebelum ketemu dokternya.
Nah, beberapa waktu yang lalu, saya mendampingi salah satu anak dampingan yang sudah ditinggal mati ayah-ibunya. Dia dari keluarga miskin. Kedua kakaknya tidak bisa menemani ke rumah sakit karena harus bekerja mencukupi kebutuhan keluarga. Bila mereka tidak masuk 1 hari saja, uang potongannya cukup besar.
Singkat cerita, saya dampingi anak ini untuk berobat di salah satu rumah sakit umum pemerintah yang sangat terkenal. Saya berangkat dari rumahnya pukul 7 pagi untuk urus-urus pendaftarannya. Tidak lupa saya membeli makanan dan minuman untuk jaga-jaga bila nanti anak ini lapar sewaktu menunggu dokter. Sampai di rumah sakit pukul 8.20
Sampai di rumah sakit, saya segera mendaftar di loket pendaftaran pasien Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang saat ini di tangani oleh Askes. Cukup banyak pasien KJS yang ingin berobat di rumah sakit ini. Saya kemudian turut mengantri sambil mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
1 jam saya berada dalam antrian. Waktu yang cukup lama bagi saya untuk sekedar mendaftar, mengingat pada waktu itu semua loket buka. Selesai dari situ saya kemudian menuju petugas pendaftaran pasien baru untuk mengisi formulir. Kemudian berkas yang saya isi dilaporkan ke bagian loket untuk dikomputerisasi. Sebenarnya tidak banyak antrian namun karena -maaf- petugasnya cukup tua dan ketiknya sebelas jari, maka komputerisasinya jadi lama
Lalu lanjut ke loket pendaftaran medik untuk bertemu dokter yang dituju. Lagi-lagi petugasnya seorang yang bagi saya seharusnya sudah pensiun yang berjaga. Empat puluh menit saya menunggu disini sampai rekam mediknya jadi. Setelah itu baru tunggu panggilan dokter. Semua waktu urus-urus pendaftaran ini membutuhkan waktu 3 jam.
Perkara menunggu panggilan dokter juga bukan masalah yang cepat. Walau nomor antrian kami hanya nomor 12 tapi itu butuh 3 jam lebih baru mendapat panggilan. Bersyukur dokternya bisa diajak bicara lama dan tidak periksa buru-buru.
Jadi total waktu kami di rumah sakit hanya untuk bertemu 1 dokter saja butuh waktu sekitar 6 jam lebih. Itu belum termasuk ambil obat di loket obat khusus pemegang kartu KJS. Hampir 2 jam menunggu disana bahkan untuk sekedar obat sirup anak bukan racikan. Sungguh waktu yang melelahkan
Bukan satu kali saja saya mengalami hal itu. Tapi sudah 3x saya menjalani proses seperti itu dalam waktu 2 minggu. Masih ada jadwal bertemu dokter lain yang harus saya jalani bersama anak ini selama minggu-minggu ke depan.
Inilah mengapa saya menulis judul di atas. Orang miskin memang dilarang sakit. Butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan sentuhan dokter. Untuk sekedar urus administrasinya saja sudah membuat mereka pusing, belum untuk fotocopy saja antrinya sudah lama dan harus buat beberapa rangkap. birokrasi yang mumet!!
Cukup memprihatinkan memang dengan keadaan yang demikian. Sudah sakit buat susah ditambah mau berobat saja dibuat susah. Memang, orang miskin dilarang sakit.
Baca selengkapnya » 0 komentar

Masalah Pendidikan di Indonesia


Peran Pendidikan dalam Pembangunan


Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya.

Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.

Pemerintah dan Solusi Permasalahan Pendidikan


Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.

Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan ,”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.”

Penyelenggaraan Pendidikan yang Berkualitas


”Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”.

Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi dan Swastanisasi Sektor Pendidikan


Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dalam APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Perancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.***
Baca selengkapnya » 0 komentar

PENYEBAB TERJADINYA TAWURAN ANTAR PELAJAR


Tawuran antar pelajar selalu menjadi agenda perbincangan setiap tahunnya, masalah ini bukan perkara baru, dan jangan dianggap perkara yang remeh. Padahal kalau kita kaji masalah tawuran antar pelajar akan membawa dampak panjang, bukan hanya bagi pelajar yang terlibat, namun juga untuk keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai akhirnya melibatkan pihak kepolisian. 
Hal ini tampak beralasan karena senjata yang biasa dibawa oleh pelajar-pelajar yang dipakai pada saat tawuran bukan senjata biasa. Bukan lagi mengandalkan keterampilan tangan, tinju satu lawan satu. Sekarang, tawuran sudah menggunakan alat bantu, seperti benda yang ada di sekeliling (batu dan kayu) mereka juga memakai senjata tajam layaknya film action di layar lebar dengan senjata yang bisa merenggut nyawa seseorang. Contohnya, samurai, besi bergerigi yang sengaja dipasang di sabuk, pisau, besi.
Penyimpangan seperti tawuran antar pelajar, menjadi kerusuhan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang tidak bisa disebut sebagai kenakalan remaja, namun sudah menjadi tindakan kriminal. Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana bisa seorang pelajar tega melakukan tindakan yang ekstrem sampai menyebabkan hilangnya nyawa pelajar lain hanya karena masalah-masalah kecil? 
Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak nakal, kelompok kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah.
Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa contoh di antaranya, yaitu:
Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di tanggapi dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-pelajar dua sekolah saling bermusuhan.
Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan tawuran antar pelajar, kita bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai penyebab tawuran antar pelajar dari tiga poin diatas.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang Berlebihan
Rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan rasa solidartas adalah hal yang lumrah atau biasa kita temukan dalam kehidupan, misalkan dalam persahabatan rasa setiakawan akan menjadi alasan mengapa persahabatan bisa menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika ditempatkan dalam porsi yang pas dan seimbang.
Namun, rasa setia kawan yang berlebihan akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya adalah mengakibatkan tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar pelajar yang dipicu karena ketersingguhan seorang siswa yang tersenggol oleh pelajar sekolah lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks lainnya. Misalkan, permasalahan pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain sebagainya.
Pemahaman arti sebuah persahabatan memang perlu dipahami oleh masing-masing individu pelajar itu sendiri. Tawuran antar pelajar yang diakibatkan karena rasa setiakawan harus segera dihentikan, karena hal ini akan memicu kawan-kawan yang lain untuk mendapatkan hak atau perlakuan yang sama pada waktu mengalami masalah.
Ini dapat menjadikan pelajar malas dalam menyelesaikan masalah dirinya sendiri, tanpa mau menyelesaikannya sendiri dan cenderung tidak berani bertanggung jawab. Menjadi ketergantungan dan akan menimbulkan dampak yang negatif bagi perkawanan itu sendiri.
Tawuran antar pelajar akibat sejarah permusuhan dengan sekolah lainKadang permasalahan tawuran antar pelajar dipicu pula dengan adanya sejarah permusuhan yang sudah ada dari generasi sebelumnya dengan sekolah lain, beredarnya cerita-cerita yang menyesatkan, bahkan memunculkan mitos berlebihan membuat generasi berikutnya, terpicu melakukan hal yang sama. 
Contohnya, sebut saja sekolah A dengan sekolah B adalah musuh abadi, dimana masing-masing sekolah akan melakukan hal yang antipati terhadap sekolah lain. Biasanya, akan ada pelajar yang menjadi perbincangan, semacam tokoh bagi sekolahnya, karena kehebatannya pada waktu berkelahi.
Dalam permasalahan tawuran antar pelajar yang dipicu karena permasalahan ini, perlu adanya pendekatan khusus, yang memasukkan program kerja sama dengan sekolah tersebut. Peranan sekolah dan guru memegang peranan penting.
Ironisnya, sebuah pertandingan persahabatan. Misalnya, olahraga. Kadang memicu sebuah permusuhan dan perkelahian. Hal ini akhirnya menuntut kecerdasan dan ketelitian pihak penyelenggara dalam mengemas sebuah acara.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Jiwa Premanisme
Premanisme bukan istilah yang asing lagi. Premanisme yang berasal dari kata “preman” adalah sebutan orang yang cenderung memakai kekerasan fisik dalam menyelesaikan permasalahannya. Kemenangan di ukur karena kekuatan fisiknya bukan intelektualitas. Premanisme bertolak belakang dengan jiwa seorang pelajar, yang dituntut kecerdasan berpikir, kecerdasan mengelola emosi, dll. 
Jiwa premanisme dalam jiwa pelajar dapat dihilangkan karena dia tidak semerta merta muncul begitu saja, ia disebabkan oleh sesuatu hal. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui faktor penyebab sikap premanisme dalam diri pelajar. Faktor di luar diri pelajar adalah faktor yang kental dapat mempengaruhi ke dalam. Beberapa contohnya adalah:
Tayangan-tayangan di televisi, baik film ataupun liputan berita yang menceritakan atau sengaja mengekspose tema-tema kekerasan dapat mempengaruhi psikis remaja.
Kekerasan yang terjadi di rumah. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya individu pelajar saja yang menjadi korban kekerasan namun kekerasan yang terjadi pada satu anggota keluarganya, dapat mempengaruhi psikis individu. Hal ini yang akan menyebabkan trauma atau kekerasan beruntun yang diakibatkan karena menganggap kekerasan adalah hal yang wajar.
Acara awal tahun, orientasi sekolah adalah acara di mana pelajar baru diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Kegiatan yang pada dasarnya adalah untuk memahami dan mengenali sekolah, kegiatan serta untuk lebih kenal kawan-kawannya malah cenderung disalah gunakan oleh senior untuk ajang balas dendam dari apa yang pernah ia terima pada waktu yang sama menjadi junior, pola-pola yang dipakai cenderung dengan pola militer. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan dalam dunia pendidikan. Pola yang menjadi semacam suntikan yang terus diturunkan oleh setiap generasi. Agar terhindar dari pola yang berlebihan, diperlukan adanya pengawasan dari pihak sekolah dan turunnya langsung pengajar dalam kegiatan ini. Kedisiplinan berbeda dengan kekerasan, hal ini seharusnya menjadi tantangan setiap panitia kegiatan dalam mengemas ide, gagasan acara pada waktu perkenalan sekolah, menjadi sesuatu yang inofatif, kreatif sehingga diharapkan lambat laun sikap premanisme akibat perpeloncoan akan menjadi cara kuno dan tidak menarik lagi.
Dari ketiga faktor penyebab tersebut, kita bisa mendapatkan bayangan atau solusi yang terbaik seperti apa dan bagaimana melakukan proses penyelesaiannya. Walaupun permasalahan tawuran antar pelajar memang bukan hal sepele yang bisa langsung diselesaikan, namun diperlukan adanya proses berkelanjutan, kesadaran dan kerja sama dengan semua pihak, bukan hanya sekolah, orangtua, masyarakat dan penegak hukum, tapi juga kesadaran pemahaman pelajar sebagai seorang individu, sebagai generasi muda yang penuh dengan tanggung jawab.
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas, yaitu: “Pemahaman” bagaimana seorang pelajar disaat sedang mengalami pencarian identitas, cenderung sangat mudah labil. Dan kelabilan inilah yang ahirnya tawuran antar pelajar terjadi.Ada beberapa cara yang efektif untuk mencegah sebelum tawuran antar pelajar terjadi, misalkan dengan:
Membuat dan memfasilitasi ruang-ruang kegiatan yang positif.
Memberikan kebebasan berpendapat dan berekspresi dan tetap adanya kontrol dari pihak-pihak yang berkaitan khususnya orang-orang terdekat, mencoba lebih terbuka dan mengenali serta memberikan solusi yang positif ketika remaja sedang mengalami emosi.
Sikap optimis dan kepercayaan terhadap pelajar perlu ditumbuhkan kembali, sehingga suatu saat kita tidak akan mendengar lagi berita atau kabar mengenai kejadian tawuran antar pelajar di negeri kita ini, yang ada kita bangsa Indonesia dipenuhi kabar berita tentang pelajar-pelajar yang produktif, kritis, mampu menjadi juara dalam berbagai bidang, baik berupa kompetisi pengetahuan dan ilmu pengetahuan. 
Sudah saatnya generasi muda membuktikan potensi dalam dirinya, dan sudah menjadi tugas kewajiban orang tua, sekolah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya bentuk-bentuk penyelewengan pelajar, terutama permasalahan yang membuat was-was menjadi sebuah tindakan kriminal, tawuran antar pelajar
SUMBER: WWW.ANNEAHIRA.COM 
Baca selengkapnya » 0 komentar

Terungkap Kecacatan Sony PS4


TOKYO - Laporan mengungkap, Sony PlayStation 4 (PS4) memiliki beberapa kecacatan atau kerusakan yang bisa ditemukan. Salah satu kecacatan tersebut ialah munculnya pesan error 'blue light of death'.

Dilansir Vr-zone, Senin (18/11/2013), laporan mengenai munculnya error tersebut beredar saat konsol tersebut dirilis pada Jumat. Sebagian gamer yang mendapatkan PlayStation 4 saat hari peluncuran mengeluhkan adanya kerusakan tersebut.

Kabarnya, kecacatan yang muncul dijuluki blue light of death (BLoD) yang terpusat di sekitar port HDMI. Port HDMI ini dikatakan mengalami kerusakan, sehingga gagal menayangkan sinyal ke TV pengguna.

Ketika melakukan boot pada PS4, kabarnya konsol menampilkan lampu biru sesaat, kemudian berubah menjadi putih setelah simbol PlayStation muncul di layar. Mereka yang mengalami BLoD tidak bisa memunculkan sinyal PS4 ke TV.

Masalah ini kabarnya tidak hanya mencoreng kampanye Sony, tetapi juga mengakibatkan beberapa gamer, yang tidak diketahui jumlahnya untuk frustasi setelah membeli PS4 sekira USD400. 

Shuhei Yoshida dari Sony baru-baru ini merespon bahwa perusahaan akan menginvestigasi pesan error tersebut. Raksasa produsen konsol game asal Jepang ini juga menyatakan bahwa sekira 0,4 persen konsol yang diproduksi, diperkirakan mengalamai kecacatan.

Langkah terbaik apabila pengguna menemukan kecacatan ialah melaporkan ke bagian support line Sony atau mengunjungi pihak ritel, tempat Anda membeli PS4. Tidak hanya konsol game buatan Sony, Microsoft Xbox 360 juga kabarnya pernah mengalami error yang dinamakan 'Red Ring of Death', (
Baca selengkapnya » 0 komentar

Teknologi DNA Ganda untuk Produksi Panen Melimpah


YERUSALEM - Sebuah perusahaan startup asal Israel membuat sebuah temuan yang dapat meningkatkan hasil panen secara berlimpah. Stratup bernama Kaiima Bio-Agritech tersebut memiliki visi untuk menyediakan seluruh kebutuhan bahan pangan di seluruh dunia dengan teknologinya.

Teknologi tersebut menggunakan manipulasi DNA sebuah tumbuhan. DNA dari tumbuhan pertanian seperti padi, jagung, gandum dan lainnya digandakan agar bisa memproduksi hasil panen yang lebih banyak dari biasanya. Bahkan penggandaan DNA ini pun bisa diatur sesuai keinginan hasil panen yang diinginkan.

Dari manipulasi DNA ini juga dapat membuat tumbuhan pertanian menggunakan lebih sedikit air, dan meningkatkan daya tahan untuk hidup di kondisi yang sulit. 

CEO Kaiima Bio-Agritech, Doron Gal, mengatakan target jangka pendek perusahaan startup-nya saat ini adalah meningkatkan hasil panen ladang padi miliknya sendiri. Percobaan yang dilakukan pada ladang padi, jagung, dan gandum ini sudah terbukti dengan peningkatan yang cukup signifikan.

Dari 15 persen hasil panen biasa bisa meningkat hingga 50 persen jika menggunakan teknologi manipulasi DNA dari Kaiima. 

"Tujuan utama kami adalah untuk meningkatkan produksi panen ladang dengan cara mempercepat pertumbuhan tanaman dengan menggandakan DNA. Kami membuat ladang menjadi lebih baik, dan membuat ladang pertanian lebih tahan terhadap hama, iklim yang berubah-ubah, dan penyakit. Dengan ini hasil panen akan meningkat lebih banyak hanya dengan biaya yang lebih sedikit," kata Gal seperti dikutip Mashable, Senin (25/11/2013). 
Baca selengkapnya » 0 komentar

Copyright © مرحبا بكم في مدونتي (Ega's Blog) 2013

Template By Ega Firza